Berikut artikel dari Bambang Priyambodo tentang sejarah farmasi dunia.

Bayer AG: Dari Limbah Tak Berharga Menjadi “Raksasa” Kimia dan Farmasi Dunia

Meskipun bukan yang pertama, namun Bayer AG dianggap sebagai “pembuka” era baru dalam tonggak sejarah industri farmasi di dunia. Perusahaan inilah yang untuk PERTAMA kali, membuat obat yang DISINTESA dari bahan kimia murni bukan dari bahan alam, sehingga “kelahirannya” dianggap sebagai “milestone” dalam sejarah perkembangan industri farmasi dunia. Namun siapa sangka, sintesis obat secara kimia PERTAMA yang dihasilkan oleh perusahaan yang berkantor pusat di Leverkusen, Jerman ini ternyata hasil “kejeniusan” seorang ahli kimia memanfaatkan limbah yang semula tidak ada harganya sama sekali.

Bayer AG, didirikan pertama kali pada tahun 1863 oleh Friedrich Bayer, seorang ahli dalam bidang pewarna (dye) bersama rekannya, Friedrich Weskott di Barmen, Jerman. Bayer muda dibesarkan oleh keluarga yang secara turun-temurun berkecimpung dalam bisnis kain dan pewarna. Kakeknya memiliki pabrik memintalan kain di Elberfeld, Jerman; sedangkan ayahnya memiliki pemintalan benang sutera. Bayer muda belajar kimia dan sangat menguasai bahan2 pewarna yang sangat dekat hubungannya dengan bidang bisnis kakek dan ayahnya. Sementara Friedrich Weskott berasal dari keluarga petani dan memiliki sebuah pabrik pewarnaan benang. Tepat pada tanggal 1 Agustus 1863, kantor “Friedr. Bayer et Comp.” sebagai cikal bakal Bayer AG resmi dibuka di Rittershause, Barmen dengan hanya memiliki 1 orang pegawai – Daniel Preiss – yang kemudian bekerja selama 40 tahun dan ikut menjadi saksi sejarah bagaimana Bayer AG tumbuh dan berkembang, yang bahkan sang pendirinya sendiri tidak sempat melihat transformasi perusahaan ini.

Pelan namun pasti, Friedr. Bayer et Comp., tumbuh dan berkembang. Produk pertama yang mereka hasilkan adalah Fuchsine pewarna textile yang tahan terhadap asam. Hingga tahun 1877 perusahaan ini sudah membukukan asset sebesar 5,4 juta mark, memiliki 4 pabrik yang memproduksi berbagai macam pewarna tekstile antara lain fuchsine, aniline, alizarin dan Azo. Mereka juga membuka pabrik di Lille, Perancis dan di Moskow, Rusia. Hanya dalam waktu kurang dari 15 tahun, Friedr. Bayer et Comp. sudah memiliki lebih dari 200 pekerja dan memproduksi lebih dari 100 jenis pewarna serta menjadi perusahaan pewarna terkemuka di Jerman..

Di tengah perkembangan perusahaan yg sedemikian pesat, pada tahun 1880, sang pendiri – Friedrich Bayer – meninggal dunia pada usia 54 tahun, berselang 4 tahun dari partnernya, Friedrich Weskott yang meninggal dunia dalam usia 55 tahun. Sebelumnya, tongkat kendali perusahaan diserahkan kepada sebuah dewan yang terdiri dari Julie (istri Friedrich Bayer Sr.), Friedrich Bayer Jr. (anak Friedrich Bayer Sr.), Carl Rumff (anak menantu), Friedrich Weskott jr. (anak Friedrich weskott sr.), August Siller (menantu Friedrich Weskott sr.) dan Eduart Tust sebagai satu2nya yang bukan anggota keluarga pendiri. Nama perusahaan pun diubah menjadi “Farbenfabriken Vorm. Friedr. Bayer & Co.” dan menjual sebagaian saham di Pasar Saham Dusseldorf. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham pertama Carl Rumff, August Siller dan Eduard Tust terpilih sebagai Dewan Komisaris, sedangkan Friedrich Bayer Jr. dan Friedrich Weskott jr. terpilih sebagai Direktur perusahaan.

“Arah angin” perusahaan ini mulai berubah haluan tatkala pada tahun 1883, Carl Rumff merekrut seorang anak muda berusia 23 tahun yang sangat terobsesi dengan kimia, Carl Duisberg, sebagai tenaga ahli kimia dan mengepalai divisi riset perusahaan ini. Pada musim panas tahun 1886, Carl Duisberg melihat tumpukan ratusan drum berisi para-nitrophenol yang teronggok begitu saja di halaman belakang pabrik yang memproduksi Benzoazurine. Tidak kurang dari 30.000 kg para-nitrophenol ini merupakan limbah hasil samping dari proses produksi Benzoazurine. Berkat “kejelian” dan “kejeniusan” Carl Duisberg, limbah tak berharga ini kemudian diolah menjadi p-acetophenetidine yang mirip dengan acetanilide yang saat itu digunakan sebagai obat turun panas (antipyretic). Oleh Carl Duisberg, p-acetophenetidine ini diberi nama Phenacetin. Dari hasil uji pharmakologi ternyata Phenacetin memiliki khasiat antipyretic yang jauh lebih kuat dan jauh lebih stabil serta efek samping yang jauh lebih rendah dibanding Acetanilide. Dan tiba – tiba saja, perusahaan yang sebelumnya berkecimpung dalam produksi pewarna tekstil, berubah haluan menjadi pabrik obat dengan produk andalan Phenacetin yang diperoleh dari limbah pabrik yang semula tidak ada harganya sama sekali… Dan penemuan Phenacetin ini memperoleh moment yang pas, karena pada saat itu terjadi epidemi flu di Eropa dan Amerika Serikat menjadikan produk ini amat laris di pasaran. Kejeniusan Carl Duisberg akhirnya membawanya ke puncak pimpinan perusahaan. Dia menjadi CEO Bayer & Co. pada tahun 1900. Di tangannya berbagai obat2an berhasil disintesis dan banyak di antaranya yang kemudian menjadi “legendaris”, antara lain yang kemudian dinobatkan menjadi “Obat Sepanjang Masa”, Aspirin.

Penemuan Phenacetin membuka babak baru dalam perjalanan perusahaan ini. Divisi pewarna juga masih terus berkembang dengan menghasilkan berbagai varian product. Divisi Pharmaceutical, di bawah supervisi khusus dari Carl Duisberg, terus melakukan inovasi – inovasi baru. Beberapa obat baru juga kemudian ditemukan dan laris di pasaran, di antaranya: Sulfonal yang disintesa dari diethylmercaptodimethylmethane. Setelahnya ditemukan pula Trional sebagai obat penenang, hasil pengembangan dari Sulfonal. Obat lain yang dikembangkan adalah Piperazine untuk obat cacing. Pada tahun 1894, Bayer meluncurkan produk Tannigen yang sangat efektif mengatasi diare. Lambat laun, Bayer kemudian dikenal sebagai “drug manufacturer” dibanding dengan produsen pewarna. Bahkan pada saat pergantian abad, nama Bayer identik dengan “obat”..

Pada tahun 1894, atas rekomendasi dari seorang ilmuwan peraih hadiah nobel, Prof. Adolf van Baeyer, seorang anak muda brilian yang berasal dari Ludwigsburg, Negara Bagian Baden-Wurttemberg, bergabung dengan Bayer sebagai peneliti. Anak muda yang meraih gelar apoteker dan kimia dari Ludwig Maximillian University di Munich dengan gelar Magna Cum Laude serta meraih gelar Doktor hanya dalam waktu 2 tahun, juga dengan gelar Magna Cum Laude, inilah yang nantinya membawa kejayaan bagi Bayer. Pemuda brilian, pemalu dan pendiam ini bernama Felix Hoffmann.

Pada tanggal 10 Agustus 1897, Felix Hoffman berhasil mensintesa Acetylsalicylic Acid (ASA) dengan proses asetilisasi asam salisilat menggunakan asam asetat. Sebuah penemuan yang sangat luar biasa, mengingat sudah sekian lama ilmuwan berusaha mensintesa ASA dengan berbagai macam metode namun belum pernah ada yang berhasil. Namun, Felix Hoffmann, pemuda brilian ini berhasil mensintesa ASA dalam bentuk bahan kimia yang murni dan sangat stabil. Bayer, selanjutnya bergerak cepat dengan mendaftarkan Patent dari produk ini, yang kemudian di-setujui pada tahun 1899, dengan nama yang kemudian menjadi legenda: ASPIRIN, yang berasal dari bahasa jerman yang artinya “sebuah asam yang secara kimia identik dengan asam salisilat”. Huruf “A” = acetyl, “- SPIR dari kata Spirsäure = (seperti) asam salisilat, “-IN = obat.

Ada cerita menarik di balik penemuan Aspirin ini. Pada waktu itu, ada 8 ahli kimia dan ahli farmakologi yang bekerja di Divisi Riset Bayer di Elberfeld. Salah seorang diantara mereka adalah si jenius Felix Hoffmann. Sebenarnya, Bayer tidak secara khusus mengembangkan obat anti rematik. Namun, Felix Hoffman yang mempunyai ayah yang menderita penyakit rematik berkepanjangan, yang sangat menderita dengan obat asam salisilat yang membuat mual dan rasanya sangat pahit, secara diam2 mengembangkan obat anti rematik yang lebih stabil, rasa lebih bisa enak dengan efek samping yang lebih kecil. Akhirnya, obat yang sebenarnya “tidak direncanakan” ini berhasil ditemukan dan sukses besar di pasaran. Sampai dengan tahun 2011 obat ini sudah diproduksi sebanyak 40.000 ton pertahun. Di Amerika serikat saja, obat ini diproduksi hampir mencapai 20 milyar tablet pertahun.. Tidak mengherankan obat ini dinobatkan sebagai “Obat Sepanjang Masa”. Padahal obat ini sebenarnya tidak direncanakan, namun lebih karena cinta kasih seorang anak untuk meringankan beban sakit dari si ayah yang dicintainya… (Hiks.. ambil tissue…).

Setelah meluncurkan “si fenomenal” Aspirin, masih banyak lagi obat2 legendaris yang dihasilkan oleh Bayer & Co, di antaranya Heroin (diacethylmorphine) yang juga berhasil disintesis oleh Felix Hoffmann sebagai obat batuk (sekarang tergolong narkotika kelas wahid), Veronal (diethylbarbituic acid) sebagai obat hipnotic, kemudian Phenobarbital (1912) sebagai obat anti-epilepsi yang hingga saat ini masih masuk dalam daftar obat esensial dari WHO. Bayangkan obat yang sudah berusia lebih dari 100 tahun, namun masih menjadi obat pilihan Badan Kesehatan Dunia… Luar biasa…

Pada tahun 1916, ilmuwan2 Bayer menemukan SURAMIN, sebuah senyawa yang berkhasiat sebagai anti-biotik/anti parasit PERTAMA yang berhasil disintesis secara kimia. Penemuan ini membuka jalan bagi penemuan senyawa antibiotik lain yang lebih poten dan lebih sedikit efek samping yang ditimbulkannya, yaitu Sulfonamide yang ditemukan oleh peneliti Bayer yang lain, Gerhard Domagk. Penemuan Sulfonamide ini kemudian membuka “era baru” dalam dunia pengobatan sehingga Domagk kemudian dianugerahi hadiah Nobel bidang kesehatan tahun 1939.

Perang Dunia II, meluluh-lantakkan pabrik Bayer di Leverkusen. Diperlukan waktu 6 tahun untuk membangun kembali fasilitas produksi dari puing-puing bangunan yang hancur lebur. Setahun kemudian, 1952, mereka sudah mulai memproduksi obat2an dan berbagai bahan kimia dan bahkan sudah mengeksport produk2nya ke berbagai belahan dunia.

Tahun 1963, SERATUS TAHUN sejak Bayer didirikan, wmereka sudah memiliki lebih dari 80.000 karyawan dengan penjualan lebih dari 4,7 milliar mark. Tahun 1978, Bayer mengakuisisi Miles Laboratories, Canada. Tahun 1994 mengakuisisi Sterling Winthrop, selanjutnya mereka juga mengakuisisi Divisi OTC Roche Pharmaceutical tahun 2004 yang mengakibatkan banyak pabrik Roche di seluruh dunia berpindah tangan, ternasuk pabrik PT. Roche Indonesia yang di Cimanggis, Depok tempat pertama kali saya membangun karier (Hiks.. baper nih… he3..).

Tahun 2006, Bayer AG mengakuisisi Schering AG dengan senilai € 14,6 milliar, yang merupakan salah satu dari 10 besar dalam sejarah merger & akuisisi dunia, SESAAT sebelum Schering AG jatuh kepelukan Merck KGaA, dan secara resmi berubah nama menjadi Bayer Schering Pharma AG sebagai anak perusahaan Bayer AG. Dengan bergabungnya Divisi OTC dari Roche dan Schering AG, maka hingga sekarang terdapat 4 divisi, yaitu Pharmaceutical, Consumer Health, Cropscience dan Animal Health.

Bayer AG yang pada saat didirikan hanya punya 1 orang karyawan, hingga tahun 2016 telah memiliki lebih dari 116.000 karyawan dari berbagai belahan bumi. Perusahaan yang pada awalnya hanyalah pembuat pewarna tekstil, 154 tahun kemudian telah menjelma menjadi raksasa kimia dan farmasi dunia. Semuanya berawal dari onggokan limbah yang tak berharga, namun di tangan – tangan orang2 jenius yang ulet dan tiada kenal menyerah akhirnya mereka bisa menguasai dunia dan sangat berjasa bagi kehidupan dan kesejahteraan umat manusia penduduk di planet bumi ini.

 

Refrensi:

  1. Bayer AG: Dari Limbah tak Berharga Menjadi "Raksasa" Kimia dan Farmasi Dunia (Bagian Pertama)Meskipun bukan yang…

    Dikirim oleh Bambang Priyambodo pada Rabu, 01 Februari 2017

  2. https://farmasiindustri.com/industri/bayer-ag-dari-limbah-tak-berharga-menjadi-raksasa-kimia-dan-farmasi-dunia-bagian-pertama.html
  3. https://farmasiindustri.com/industri/bayer-ag-dari-limbah-tak-berharga-menjadi-raksasa-kimia-dan-farmasi-dunia-bagian-kedua.html