Saat ini perkembangan ilmu Farmakognosi sangat luas, tidak hanya berhubungan dengan bidang farmasi. Diantara bidang perkembangan Ilmu Farmakognosi adalah:


1. Farmakognosi Forensik

Farmakognosi Forensik adalah penerapan metode dan teknik dalam Farmakognosi untuk penyelidikan kejahatan yang timbul dari penyalahgunaan tanaman dan obat-obatan mentah yang diperoleh dari tumbuhan, hewan, dan asal mineral. Ini menggunakan metode dan teknik Farmakognosi konvensional dan modern, seperti makroskopik, mikroskopik, mikroskop kuantitatif, dan metode fitokimia untuk mengungkap kejahatan yang timbul dari penyalahgunaan tanaman. Penyalahgunaan seperti itu termasuk untuk tujuan pembunuhan, penyalahgunaan obat alami, dan penggunaan tanaman dalam olahraga untuk mendapatkan keuntungan yang tidak semestinya; semuanya berada dalam lingkup Farmakognosi forensik. 

Sebagian besar metabolit sekunder dari tanaman meninggalkan jejak kecil di tubuh manusia setelah konsumsi, hal ini yang membuat mereka (peneliti) tertarik untuk mengekstraksi jaringan tubuh dengan tujuan analisis. Tantangan seperti itu dan terus diatasi dengan kemajuan teknologi, dan begitu pengembangan metode analisis, seperti kromatografi cair tekanan tinggi (HPLC) pada akhir abad ke-20, memungkinkan untuk deteksi yang lebih efektif dari metabolit sekunder tertentu seperti morfin, kafein, dan atropin mengingat sensitivitas yang tinggi dari metode pendeteksian ini. Seorang ahli kimia, Jean Servais Stas, mengisolasi nikotin dari jaringan tubuh sehingga menjadi orang pertama yang mengembangkan metode untuk mengekstrak alkaloid tanaman dari bahan organik dari tubuh manusia. Ahli Toksikologi lainnya kemudian mengembangkan tes kualitatif untuk menentukan keberadaan berbagai alkaloid dan produk alami lainnya, termasuk berbagai steroid.

2. Farmakognosi Molekuler

Dengan menggunakan metode dan teknologi kloning molekuler, rekayasa genetika, kultur jaringan, dan penanda molekuler, Farmakognosi telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, dan sekarang menjadi ilmu yang sangat canggih.
Farmakognosi Molekuler
meliputi klasifikasi, identifikasi, budidaya, dan konservasi bahan obat dan produksi komponen mereka pada tingkat molekuler, serta modulasi metabolit sekunder. Farmakognosi Molekuler juga menyelidiki bahan obat pada tingkat asam nukleat dan protein.

3. Ekofarmakognosi

Istilah Ekofarmakognosi didefinisikan sebagai "studi tentang sumber daya alam yang berkelanjutan dan aktif secara biologis". Sebagai pendekatan filosofis, ilmu ini menyediakan kerangka kerja konsensus untuk mengembangkan strategi baru dan perspektif ilmiah baru yang dapat meningkatkan aksesibilitas produk global masa depan dan menjamin hasil yang menguntungkan. Berbagai faktor ekologis mempengaruhi metabolit sekunder. Ini termasuk kekeringan, salinitas, suhu, perubahan iklim, cahaya, dan stres nutrisi. Oleh karena itu, jika kita terus mengeksploitasi tanpa menjaga sumber daya alam yang kita miliki, maka pertanyaannya “apa yang akan menjadi sumber obat-obatan alami pada puluhan tahun mendatang?”

 

Refrensi:

  1. Mojab F. Pharmacognosy in Iran. Iran J Pharm Res 2006;3:153-4.
  2. Sudha K, Veeraiah K, Sambasiva R. Determination of toxic heavy metals lead and mercury in traditionally used herb. Int J Res Rev Pharm Appl Sci 2011;1:41
  3. Silverman B. Research and development in forensic science: review, vol. 2014; 2011.
  4. Adams D. The development of appropriate methods for drug analysis at the Forensic Chemistry Laboratory. Cape Town: University of Cape Town; 2008.
  5. Wennig R. Back to the roots of modern analytical toxicology: Jean Servais Stas and the Bocarme murder case. Drug Test Anal 2009;1:153
  6. Huang L, Guo L, Hu J. Molecular mechanism and genetic background of geoherbalism. China J Chin Mater Med 2008;33:2303-2303.
  7. Cordell GA. Ecopharmacognosy and the responsibilities of natural product research to sustainability. Phytochem Lett 2015;11:332-46.
  8. Massacci A, Nabiev SM, Pietrosanti L, Nematov SK, Chernikova TN, Thor K, et al. Response of the photosynthetic apparatus of cotton (Gossypium hirsutum) to the onset of drought stress under field conditions studied by gas-exchange analysis and chlorophyll fluorescence imaging. Plant Physiol Biochem 2008;46:189-95.
  9. Daneshmand F, Arvin M, Kalantari K. Physiological responses to NaCl stress in three wild species of potato in vitro. Acta Physiol Plant 2010;32:91-101.
  10. Szakiel A, Pączkowski C, Henry M. Influence of environmental abiotic factors on the content of saponins in plants. Phytochem Rev 2011;10:471-91.
  11. He X, Huang W, Chen W, Dong T, Liu C, Chen Z, et al. Changes of main secondary metabolites in leaves of Ginkgo biloba in response to ozone fumigation. J Environ Sci (China) 2009;21:199-203.
  12. Anasori P, Asghari G. Effects of light and differentiation on gingerol and zingiberene production in callus culture of Zingiber officinale Rosc. Res Pharm Sci 2008;3:59-63.
  13. Zeid IM. Effect of arginine and urea on polyamines content and growth of bean under salinity stress. Acta Physiol Plantar 2009;31:65-70.